SYAMSUL RIZAL: PNPI TAK BOLEH JADI ORGANISASI SEREMONIAL, PEMUDA HARUS TURUN TANGAN BANGUN INDONESIA

Admin RedMOL
0

JAKARTA | Binjai.REDMOL.ID — Ketua Umum Persatuan Nasional Pemuda Indonesia (PNPI), Syamsul Rizal, melontarkan pesan tegas dalam menghadapi konsolidasi Pemuda PNPI periode 2026–2028. Menurutnya, konsolidasi tidak boleh berhenti pada rapat, struktur kepengurusan, atau seremoni organisasi. PNPI harus bergerak, bekerja dan menghasilkan karya yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Syamsul menilai pemuda harus berani mengambil posisi strategis dalam pembangunan nasional. Bukan sekadar menjadi penonton, apalagi hanya menunggu program pemerintah.

Pemuda harus menjadi pelaku pembangunan, penggerak perubahan, pencipta lapangan kerja, inovator, sekaligus mitra kritis pemerintah.

“Pemuda jangan hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi harus masuk dan menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri. Kita harus kritis ketika ada yang perlu diperbaiki, mendukung yang bermanfaat bagi rakyat, serta menghadirkan gagasan dan solusi bagi bangsa,” tegas Syamsul Rizal.

KONSOLIDASI PNPI HARUS NAIK KELAS: DARI STRUKTUR KE GERAKAN

Syamsul menegaskan, konsolidasi PNPI 2026–2028 harus memiliki arah yang jelas. Konsolidasi bukan sekadar mengumpulkan kader dan merapikan struktur, tetapi harus menjadi konsolidasi gagasan, kekuatan, jaringan dan kerja nyata.

PNPI harus mampu menghimpun energi pemuda lintas daerah dan latar belakang untuk menjawab persoalan masyarakat.

Bidang kewirausahaan, UMKM, ekonomi kreatif, teknologi, pendidikan, pertanian modern, ketahanan pangan, energi hingga pemberdayaan masyarakat desa harus menjadi ruang nyata bagi pemuda untuk mengambil peran.

Jika pemuda hanya sibuk dengan jabatan organisasi tetapi tidak mampu memberi dampak kepada masyarakat, maka konsolidasi kehilangan maknanya.

PEMUDA JANGAN HANYA JADI PENONTON PEMBANGUNAN

Perubahan zaman bergerak cepat. Digitalisasi dan kecerdasan buatan membuka peluang sekaligus menghadirkan tantangan baru. Persaingan global semakin keras, sementara persoalan lapangan kerja, pendidikan, kesenjangan ekonomi dan ketimpangan pembangunan masih menjadi pekerjaan besar.

Dalam kondisi tersebut, Syamsul mendorong PNPI menjadi jembatan antara aspirasi pemuda, kebutuhan masyarakat dan kebijakan pembangunan pemerintah.

Pemuda harus didorong naik kelas: bukan hanya sebagai penerima bantuan atau program, tetapi menjadi pencipta lapangan kerja, pengusaha, profesional, inovator dan penggerak ekonomi rakyat.

“Generasi muda harus diberikan ruang semakin luas untuk menjadi kekuatan produktif. Jangan hanya menjadi objek program. Pemuda harus mampu menciptakan peluang dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

KRITIS BOLEH, DIAM JANGAN — TAPI KRITIK HARUS PUNYA SOLUSI

PNPI juga dituntut menjaga fungsi kontrol sosial. Syamsul menegaskan pemuda harus tetap kritis terhadap kebijakan publik, tetapi kritik tidak boleh berubah menjadi sekadar sorotan tanpa dasar.

Kritik harus berbasis data, argumentasi dan solusi.

Dengan demikian, keberanian pemuda mengawasi jalannya pembangunan justru menjadi energi positif bagi pemerintah untuk memperbaiki kebijakan yang tidak tepat sekaligus memperkuat program yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.

KADERISASI HARUS MELAHIRKAN PEMIMPIN, BUKAN SEKADAR PEMEGANG JABATAN

Bagi PNPI, konsolidasi 2026–2028 juga menjadi momentum memperkuat kaderisasi kepemimpinan.

Organisasi kepemudaan harus menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki integritas, nasionalisme, kompetensi, keberanian dan kepedulian sosial.

Jabatan organisasi, menurut semangat yang disampaikan Syamsul, seharusnya menjadi amanah untuk bekerja dan mengabdi, bukan sekadar simbol status.

Pemuda yang hebat bukan yang paling banyak memegang jabatan, tetapi yang paling nyata memberikan manfaat.

PNPI DAN AGENDA INDONESIA EMAS 2045

Syamsul berharap PNPI mampu menjadi rumah besar yang menyatukan energi pemuda untuk menghadapi tantangan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Perbedaan daerah, latar belakang dan organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk terpecah. Justru keberagaman harus menjadi modal kekuatan untuk membangun kolaborasi.

“Konsolidasi PNPI 2026–2028 harus kita arahkan dari konsolidasi organisasi menjadi konsolidasi karya. Pemuda jangan hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi harus masuk dan menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan, masa depan Indonesia tidak boleh hanya ditunggu.

Masa depan harus diperjuangkan dan dibangun mulai hari ini.

“Pemuda bukan hanya pewaris masa depan Indonesia. Pemuda harus ikut membangun masa depan itu sejak hari ini. Konsolidasi PNPI 2026–2028 adalah konsolidasi persatuan, gagasan dan kerja nyata untuk Indonesia yang maju, mandiri, kuat dan berdaulat,” pungkas Syamsul Rizal.

Kini tantangannya jelas: PNPI harus membuktikan bahwa konsolidasi bukan sekadar pergantian struktur, melainkan titik awal gerakan pemuda yang benar-benar hadir, bekerja dan memberi dampak bagi rakyat.

Redaksi: Binjai.REDMOL.ID

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke Mata Camera ID, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!