BRI Stabat Didorong Tak Sekadar Simulasi: Peran Aktif Saat Bencana Dituntut Nyata, Bukan Formalitas

Admin RedMOL
0

Binjai | REDMOL.ID — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BO Stabat kembali menggelar simulasi tanggap banjir sebagai bagian dari Program Business Continuity Management (BCM). Namun di tengah ancaman banjir yang berulang di wilayah Langkat–Binjai, kegiatan ini kini mendapat sorotan tajam: apakah BRI siap turun langsung saat bencana, atau hanya berhenti di panggung simulasi?

Simulasi yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Langkat memang memperlihatkan kesiapan teknis—evakuasi pekerja, penyelamatan aset, hingga koordinasi darurat. Tetapi publik kini menuntut lebih dari sekadar skenario latihan.

Peran aktif saat bencana nyata menjadi titik tekan.
Dalam kondisi banjir sesungguhnya, masyarakat tidak membutuhkan simulasi—mereka membutuhkan kehadiran nyata lembaga besar seperti BRI: bantuan cepat, akses layanan keuangan darurat, hingga keberpihakan kepada korban terdampak.

Branch Office Head BRI Stabat, Ramlan, menyebut kesiapsiagaan sebagai komitmen perusahaan.

“Kami ingin memastikan seluruh pekerja siap dan operasional tetap berjalan,” ujarnya.

Namun pernyataan tersebut dinilai belum menjawab tuntutan publik yang lebih luas. Kesiapan internal saja tidak cukup. Dalam situasi krisis, BRI sebagai bank milik negara dituntut hadir di garis depan—bukan hanya menyelamatkan sistemnya sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari solusi sosial.

REDMOL.ID menyoroti, peran aktif yang dimaksud bukan retorika:

  • Apakah BRI menyiapkan skema keringanan kredit bagi korban banjir?
  • Apakah layanan mobile banking tetap bisa diakses saat jaringan terganggu?
  • Apakah ada distribusi bantuan atau dukungan langsung ke masyarakat terdampak?

Tanpa langkah konkret itu, program BCM berisiko menjadi sekadar tameng administratif yang kuat di laporan, tetapi lemah di lapangan.

Kolaborasi dengan BPBD patut diapresiasi, namun sinergi tersebut harus ditingkatkan ke level aksi nyata—respon cepat, bantuan langsung, dan keterlibatan aktif dalam penanganan bencana, bukan hanya pelatihan.

Pesannya tegas:
Di tengah krisis, masyarakat tidak mengukur kepedulian dari simulasi—melainkan dari kehadiran dan tindakan nyata saat bencana benar-benar terjadi.

Jika BRI mampu menjawab tantangan itu, maka kepercayaan publik akan menguat. Jika tidak, simulasi hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa makna bagi mereka yang benar-benar terdampak.

Jurnalis: Agus Sidarta
Editor: Zulkarnain Idrus

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke Mata Camera ID, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!