
RedMOLBINJAI.id | ACEH UTARA – Ketika bantuan tak kunjung datang dan fasilitas pendidikan dibiarkan tenggelam dalam lumpur, Brimob Aceh justru tampil sebagai pihak yang paling sigap. Setelah cukup lama nyaris terlupakan pascabanjir, SD Negeri 10 Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, akhirnya kembali “bernapas” setelah personel Satgas Aman Nusa II Brimob Aceh turun langsung membersihkan lumpur tebal yang melumpuhkan sekolah tersebut, Minggu (10/01/2025).
Pemandangan memilukan terlihat jelas. Halaman sekolah berubah menjadi kubangan lumpur, akses menuju ruang kelas nyaris tak bisa dilalui, dan aktivitas belajar mengajar praktis lumpuh. Ironisnya, kondisi ini terjadi cukup lama tanpa sentuhan penanganan serius, seolah sekolah dasar negeri bukan bagian dari prioritas pemulihan pascabencana.

Respons cepat Brimob Aceh bermula dari laporan masyarakat yang masuk ke Hotline Posko Bencana Banjir di Mako Kompi 4 Batalyon B Pelopor Sampoyniet. Tanpa menunggu instruksi berlapis, personel langsung bergerak ke lokasi—sebuah respons yang justru menyorot lambannya perhatian terhadap fasilitas pendidikan yang seharusnya dilindungi negara.
Fakta bahwa sekolah anak-anak dibiarkan terendam lumpur hingga berhari-hari memunculkan pertanyaan serius: di mana peran instansi terkait saat masa depan generasi muda terancam hanya karena abainya penanganan pascabencana?

Kepala SD Negeri 10 Jambo Aye, Abdiah, M.Pd, tak kuasa menahan haru melihat kehadiran Brimob Aceh. Ia mengaku, sebelum bantuan datang, pihak sekolah berada di titik keputusasaan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Polri. Sekolah kami seperti mendapatkan harapan baru. Kami benar-benar sudah pasrah melihat kondisi sekolah yang kotor dan rusak. Kehadiran Polri sangat berarti bagi kami,” ujar Abdiah dengan suara bergetar.
Sementara itu, Danki Gas AKP Muzakkir menegaskan bahwa Polri tidak akan berhenti hanya pada satu titik lokasi. Ia menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus menyentuh seluruh sarana vital masyarakat.
“Sekolah adalah prioritas karena menyangkut masa depan anak-anak. Kami akan terus melakukan pembersihan pascabencana, bukan hanya sekolah, tetapi juga masjid, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum lainnya yang tertimbun lumpur sisa banjir,” tegas AKP Muzakkir.

Aksi Brimob Aceh ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi pihak-pihak yang seharusnya lebih awal hadir. Ketika aparat kepolisian justru menjadi garda terdepan membersihkan lumpur sekolah, publik berhak bertanya: mengapa lembaga pendidikan harus menunggu lama untuk mendapat perhatian?
Brimob Aceh membuktikan bahwa kehadiran negara bukan sekadar jargon, melainkan kerja nyata di lapangan. Namun di sisi lain, peristiwa ini menjadi catatan pahit bahwa penanganan pascabencana di Aceh Utara masih menyisakan pekerjaan rumah besar—terutama soal kecepatan, kepekaan, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat kecil. (Zul)
Editor: Zulkarnain Idrus
