
Boyolali | RedMOLBINJAI.id — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali melepas bantuan kemanusiaan senilai Rp 251 juta untuk korban bencana alam di Pulau Sumatera. Pelepasan bantuan yang dilakukan di halaman Kantor BPBD Boyolali, Jumat (9/1/2026), dipimpin langsung oleh Bupati Boyolali Agus Irawan, disertai seremoni apel dan penyerahan simbolis kepada pihak penyalur, Solo Peduli.
Di balik prosesi resmi tersebut, publik kini menaruh sorotan tajam pada jalur distribusi dan pertanggungjawaban bantuan, agar nilai bantuan yang diklaim mencapai ratusan juta rupiah tersebut benar-benar sampai kepada korban bencana, bukan berhenti pada agenda formalitas.
Dalam pernyataannya, Bupati Agus Irawan menyebut bantuan dihimpun melalui BPBD Boyolali, bersumber dari OPD, PKK, serta partisipasi masyarakat Boyolali. Ia menyatakan empati atas musibah yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera.
“Ini bentuk kepedulian kami terhadap saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ujar Agus singkat.
Bantuan yang dikirimkan, kata Agus, meliputi makanan siap saji, selimut, mukena, pakaian baru, dan kebutuhan dasar lainnya. Pemerintah daerah berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban korban di lokasi terdampak.
Namun demikian, nilai bantuan Rp 251 juta menuntut keterbukaan informasi yang sepadan. Kepala BPBD Boyolali, Suratno, mengungkapkan bahwa bantuan dihimpun sejak Desember 2025 dan dipastikan dalam kondisi baru serta layak pakai.
“Total bantuan sekitar Rp 251 juta. Isinya makanan cepat saji, pakaian baru—bukan bekas—selimut, serta alat ibadah,” kata Suratno.
RedMOLBINJAI.id menegaskan, bantuan kemanusiaan bukan sekadar soal pengiriman logistik, tetapi menyangkut akuntabilitas publik, pengawasan distribusi, dan laporan realisasi yang terbuka. Tanpa transparansi yang jelas, bantuan berpotensi menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.
Pemerintah daerah, BPBD, serta pihak penyalur diminta tidak berhenti pada pelepasan simbolis, melainkan memastikan mekanisme distribusi, dokumentasi penyaluran, serta pelaporan kepada publik dilakukan secara terbuka dan dapat diuji.
Di saat bencana menuntut kecepatan dan kejujuran, empati tanpa transparansi berisiko menjadi sekadar narasi seremonial.
Reporter: Armila GWI& Red
Editor: Zulkarnain Idrus
