Wisata Mangrove Karang Gading: Dari Arang ke Ekowisata Dunia

Admin RedMOL
0

Foto : Akar bakau di lokasi mangrove menghadap ke Selat Malaka.

Binjai.REDMOL.ID | Langkat — Di balik gemerlap kunang-kunang yang memikat turis mancanegara di Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading, ada ancaman besar yang diam-diam menggerogoti ekosistem mangrove. Perkebunan kelapa sawit dan eksploitasi galian C di hulu sungai menjadi bom waktu yang bisa menghancurkan ekowisata yang baru tumbuh.  

Dari Wisata ke Ancaman Ekologi
Kepala Balai Besar KSDA Sumut, Novita Kusuma Wardani, mencatat 76 wisatawan asing sudah masuk hingga Agustus 2026. Mereka datang untuk herping, bird watching, hingga belajar menanam mangrove. Dampaknya jelas: ada pemasukan negara, ada peluang ekonomi bagi warga pesisir.  

Kepala Balai Besar KSDA Sumut, Novita Kusuma Wardani

Namun, di balik geliat ekowisata, Sungai Batang Buluh — nadi utama kawasan mangrove — kini berubah. Air yang seharusnya payau, kini tawar dan berlumpur. Endapan lumpur dari perkebunan sawit dan pengerukan galian C menyebabkan pendangkalan. Enceng gondok dan rumput liar tumbuh subur, menandai rusaknya keseimbangan salinitas.  

Ekosistem di Ujung Tanduk
Mangrove bukan sekadar pohon. Ia adalah benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi, sekaligus rumah bagi satwa endemik:  
- Tuntung Laut (Batagur borneoensis) yang kini terancam punah.  
- Byuku, kura-kura air tawar besar yang jadi incaran perdagangan ilegal.  
- Ular Sanca, Biawak, hingga Buaya muara yang bergantung pada ekosistem mangrove.  
- Burung endemik seperti Bangau Tuntung dan Bangau Luok yang kini semakin jarang terlihat.  


Jika salinitas terus berubah, rantai kehidupan ini akan runtuh. Satwa kehilangan habitat, warga kehilangan sumber penghidupan, dan ekowisata kehilangan daya tarik.  

Ironi Pembangunan
Aliandi, Ketua KTH Mangrove Sejahtera, adalah saksi hidup perubahan. Dulu ia menebang mangrove untuk arang, kini ia menjaga hutan. Tapi perjuangannya bisa sia-sia jika pemerintah membiarkan ekspansi sawit dan galian C terus merajalela.  
“Kalau mangrove hilang, hidup masyarakat pesisir ikut hilang,” tegasnya.  


Ironisnya, ekowisata yang memberi pemasukan negara justru terancam oleh kebijakan pembangunan yang abai terhadap lingkungan.  

Kesimpulan Investigatif
SM Karang Gading adalah laboratorium hidup ekowisata. Namun, tanpa pengendalian sawit dan galian C, kawasan ini bisa berubah menjadi kuburan ekosistem. Negara diuntungkan lewat PNBP, warga mendapat rezeki dari turis, tapi semua itu bisa lenyap jika ancaman dibiarkan.  

Ekowisata Karang Gading bukan sekadar wisata — ia adalah pertaruhan masa depan pesisir Langkat.  

Reporter: Rudi Hartono & Redaksi
Editor: Zulkarnain Idrus

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke Mata Camera ID, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!