TAMPARAN KERAS BUAT HATI WALIKOTA BATAM! Bocah 9 Tahun Korban Dugaan Penganiayaan Ibu Tiri Bikin Amsakar Achmad Tertunduk Pilu

Admin RedMOL
0

Binjai.REDMOL.ID | Batam – Di balik gemerlap pembangunan Kota Batam, terselip potret kelam yang mengoyak nurani. Seorang bocah perempuan berusia 9 tahun harus terbaring lemah di ruang perawatan RSUD Embung Fatimah, Batuaji, diduga akibat penganiayaan yang dilakukan oleh orang yang seharusnya menjadi pelindungnya sendiri.

Pemandangan itu menjadi tamparan keras bagi Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, saat menjenguk korban berinisial RAL, Senin (22/6/2026).

Langkah Amsakar seketika terhenti. Di hadapannya bukan sekadar seorang pasien anak. Yang dilihatnya adalah potret nyata rapuhnya perlindungan anak ketika kekerasan justru diduga lahir dari lingkungan keluarga sendiri.

Duduk di atas ranjang rumah sakit dengan pita merah muda di kepala, RAL mencoba tersenyum. Namun senyum itu tak mampu menutupi luka dan penderitaan yang membekas di wajah serta tubuhnya. Suasana ruang perawatan mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada pertemuan yang sarat luka kemanusiaan tersebut.

Amsakar tampak berusaha menahan gejolak emosinya. Matanya berkaca-kaca. Wajahnya menunjukkan kesedihan mendalam saat menyaksikan langsung kondisi korban.

“Sa...ya sangat menyayangkan dan mengutuk keras perbuatan yang dilakukan terhadap anak ini. Tindakan ini sudah di luar batas kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun,” ucapnya dengan suara bergetar.

Ucapan itu bukan sekadar pernyataan seorang kepala daerah. Itu adalah bentuk kemarahan moral terhadap dugaan kekerasan yang telah merampas hak seorang anak untuk tumbuh dalam kasih sayang dan rasa aman.

Kasus yang menimpa RAL menjadi alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat. Ketika rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungan berubah menjadi tempat lahirnya penderitaan, maka negara tidak boleh tinggal diam. Aparat penegak hukum harus bertindak tegas dan memastikan keadilan berpihak kepada korban.

Dalam kunjungannya, Wali Kota Batam memberikan santunan dan dukungan moral. Namun yang lebih penting, Pemerintah Kota Batam menyatakan komitmen untuk menjamin masa depan korban.

“Pemko Batam memastikan masa depan anak ini tidak boleh terputus. Kami akan menjamin kelanjutan pendidikannya hingga tuntas sehingga ia tetap memiliki kesempatan meraih cita-citanya,” tegas Amsakar.

Pernyataan tersebut menjadi secercah harapan bagi korban yang kini tengah berjuang memulihkan luka fisik maupun trauma psikologisnya.

Tragedi yang dialami RAL bukan hanya menjadi urusan satu keluarga. Ini adalah persoalan kemanusiaan yang harus menjadi perhatian serius seluruh masyarakat. Sebab setiap anak berhak hidup aman, terlindungi, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan sebagaimana dijamin dalam peraturan perundang-undangan tentang perlindungan anak.

Usai menjenguk korban, Amsakar melanjutkan kunjungan kepada korban kecelakaan rombongan jemaat HKBP Tembesi Indah yang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang sedang terluka menjadi simbol bahwa negara wajib hadir ketika rakyatnya membutuhkan perlindungan.

Namun bagi banyak pihak, kunjungan ke ruang perawatan RAL meninggalkan pesan yang jauh lebih dalam: tidak ada pembangunan yang dapat dibanggakan jika masih ada anak-anak yang menjadi korban kekerasan di dalam rumahnya sendiri.

Kini publik menanti langkah tegas aparat penegak hukum. Sebab luka yang dialami korban bukan hanya luka di tubuh, melainkan luka kemanusiaan yang menuntut pertanggungjawaban hukum secara adil dan transparan.

Reporter : Fahmi Hendri & Red
Editor : Zulkarnain Idrus

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke Mata Camera ID, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!