FRIC Dibentuk untuk Polri, Loyalitas Tanpa Batas: “Jangan Bicara Untung Rugi”

Admin RedMOL
0

RedMOLBINJAI.ID | Jakarta — Pembentukan Fast Respon Indonesia Center (FRIC) menuai sorotan. Organisasi yang disebut lahir dari inisiasi petinggi Polri ini secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai garda pendukung institusi kepolisian, bahkan menegaskan prinsip kerja tanpa mempertimbangkan untung dan rugi.

Ketua Umum FRIC, H. Dian Surahman, secara tegas menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya bukan sekadar wadah biasa, melainkan instrumen pendukung untuk memperkuat citra dan kepercayaan publik terhadap Polri.

“FRIC dibentuk khusus untuk mendukung program Presiden dan Kapolri. Tidak ada ruang untuk berpikir untung rugi. Loyalitas adalah harga mati,” tegas Dian dalam keterangannya, Kamis (19/03/2026).

Pernyataan ini sekaligus menegaskan arah gerak FRIC yang tak hanya berfungsi sebagai relawan informasi, tetapi juga disebut sebagai “counter opinion” dalam menghadapi arus kritik dan opini negatif terhadap Polri.

Di sisi lain, pernyataan “tanpa gaji namun berjuang untuk Polri” yang digaungkan FRIC menimbulkan pertanyaan publik: sejauh mana independensi organisasi ini, dan bagaimana batas antara dukungan moral dengan pembentukan opini?

FRIC sendiri mengklaim berperan aktif dalam menyampaikan narasi positif terkait kinerja Polri kepada masyarakat. Mereka menyebut langkah ini sebagai upaya membangun simpati publik di tengah derasnya kritik terhadap institusi penegak hukum tersebut.

“Bagaimana Polri bisa lebih dipercaya? Salah satunya lewat pemberitaan yang membangun simpati masyarakat,” ujar Dian.

Namun, konsep “membangun simpati” melalui pemberitaan juga berpotensi menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan transparansi dan fakta yang berimbang. Apalagi, FRIC secara eksplisit menyatakan diri sebagai tim loyal yang siap membela Polri tanpa batas waktu.

Organisasi yang diresmikan pada 18 November di Jakarta Selatan ini juga menegaskan aturan internal yang ketat. Loyalitas menjadi syarat mutlak. Anggota yang dianggap tidak sejalan dengan garis organisasi dipastikan akan dikeluarkan tanpa kompromi.

“Tidak solid, tidak loyal — keluar. Ini komitmen yang tidak bisa ditawar,” tandas Dian.

Dengan posisi sebagai “tim pendukung” sekaligus “penyeimbang opini”, keberadaan FRIC kini berada di bawah sorotan publik. Di satu sisi, mereka mengklaim membantu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa peran tersebut bisa bergeser menjadi alat pembentuk opini sepihak.

Publik kini menunggu, apakah FRIC benar-benar menjadi jembatan informasi yang sehat, atau justru mempertebal sekat antara kritik dan pembelaan terhadap institusi kepolisian.

Reporter: Fahmi Hendri& Red
Editor: Zulkarnain Idrus

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke Mata Camera ID, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!