
BINJAI | Binjai.REDMOL.ID — Di tengah dinamika kepemimpinan MPC Pemuda Pancasila (PP) Kota Binjai, muncul pula sorotan lain yang tak kalah serius, yakni isu masuknya “kader abu-abu” ke dalam tubuh organisasi.
Istilah “kader abu-abu” tersebut menjadi perbincangan di kalangan internal maupun pemerhati organisasi untuk menggambarkan adanya kekhawatiran terhadap figur-figur yang dinilai belum jelas rekam jejak, loyalitas, komitmen dan proses pengkaderannya ketika masuk ke dalam struktur organisasi.
Kondisi tersebut tentu patut menjadi perhatian. Sebab, Pemuda Pancasila bukan sekadar nama, atribut atau kendaraan untuk kepentingan tertentu. Organisasi memiliki sejarah panjang, ideologi, aturan internal serta jenjang kaderisasi yang semestinya dijaga.
Masuknya figur baru bukan persoalan sepanjang dilakukan sesuai mekanisme organisasi. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana proses seleksi dan pengkaderannya, serta apakah setiap figur yang masuk benar-benar memahami nilai perjuangan dan garis organisasi.
Jangan Sampai Kader Lama Hanya Jadi Penonton
Dinamika ini menjadi semakin menarik ketika bursa kepemimpinan MPC PP Kota Binjai mulai menjadi pembicaraan.
Nama Bung Ramayanta, S.Pd, Ketua Bidang Pertambangan MPC PP Kota Binjai, disebut sebagai salah satu figur yang mulai diperhitungkan untuk kepemimpinan periode mendatang. Dukungan Ramayanta sebagai donatur kegiatan HUT RI ke-81 yang diisi lomba tarik tambang antar-PAC, makan kerupuk dan joget balon juga menjadi perhatian.
Di tengah dinamika tersebut, persoalan kaderisasi seharusnya tidak dikesampingkan.
Jangan sampai kader yang telah lama berproses justru tersisih, sementara figur yang baru muncul memperoleh ruang lebih besar hanya karena kepentingan tertentu.
Organisasi yang kuat semestinya memberikan penghargaan kepada kader yang benar-benar berproses, loyal dan memiliki kontribusi nyata.
Ketua MPC ke Depan Harus Berani Bersih-Bersih?
Siapa pun yang nantinya memimpin MPC PP Kota Binjai menghadapi pekerjaan rumah besar.
Bukan hanya menjaga soliditas PAC, tetapi juga memastikan kaderisasi berjalan sehat, struktur organisasi tidak mudah ditunggangi kepentingan, dan masuknya anggota baru tetap melalui mekanisme yang jelas.
Jika isu “kader abu-abu” memang berkembang di internal, maka persoalannya tidak boleh dibiarkan menjadi bisik-bisik tanpa penyelesaian.
MPC PP Kota Binjai membutuhkan kepemimpinan yang berani membuka ruang evaluasi: siapa yang benar-benar kader, siapa yang sedang berproses, dan siapa yang hanya datang ketika organisasi memiliki kepentingan tertentu.
Sebab pada akhirnya, kekuatan Pemuda Pancasila bukan terletak pada banyaknya orang yang memakai seragam, tetapi pada kualitas kader yang berdiri di balik seragam tersebut.
Dan jika bursa Ketua MPC PP Kota Binjai benar-benar mulai bergulir, publik tentu akan menunggu: siapa yang mampu menjaga marwah organisasi, merangkul kader lama, membina kader baru, sekaligus menutup celah masuknya kepentingan “abu-abu” ke dalam tubuh organisasi.
Reporter: Mhd. Dzaki Zuris
